Rabu, 12 Maret 2025

MENGGUNJING (TIDAK SELAMANYA) DOSA

 




Menggunjing orang itu sarang dosa Mengganggu orang itu sarang dosa Mencaci orang itu sarang dosa Memfitnah orang itu sarang dosa Dosa, dosa, dosa, dosa, dosa

Sepenggal lirik di atas merupakan pembuka dari lagu qasidah berjudul sarang dosa yang rilis sekitar tahun 1984. Pesan berharga yang disampaikan oleh lirik tersebut kepada pendengar, yakni larangan untuk menggunjing orang lain. Terlebih, dalam kesempatan ini, kita sedang menjalani puasa di bulan Romadhon, yang tentunya  aktifitas puasa kita bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, serta hal-hal dzohir yang dapat membatalkan puasa. Lebih jauh lagi, aktifitas puasa kita juga dibarengi dengan menghindari hal-hal batin yang dapat merusak nilai puasa, semisal menggunjing, mengganggu orang, mencaci, dan memfitnah.

Hal demikian, kita lakukan dengan kesungguhan dengan harapan supaya kita tidak termasuk golongan orang yang puasa namun merugi, karena tidak dapat meraih ridho Allah Ta’ala, sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad yang artinya "banyak orang yang berpuasa, tapi tidak ada hasilnya, kecuali lapar dan dahaga". Apa yang telah Nabi sabdakan ini, merupakan sebuah peringatan terhadap umatnya, agar dalam berpuasa menjaga aspek dzohir dan batin secara beriringan sehingga ruh dari puasa dapat merasuk dalam sanubari.

Menggunjing orang sebagai salah satu perbuatan yang dapat merusak nilai puasa seseorang, dalam pandangan agama, diistilahkan dengan ghibah. Bahkan, sampai dikatakan bahwa orang yang menggunjing seperti memakan daging bangkai saudaranya sendiri sesama muslim. Sebegitu mengerikan gambaran tentang menggunjing, lantas apakah hal tersebut membuat menggunjing dilarang secara mutlak oleh agama?

Ulasan menarik disampaikan oleh Imam Abu Laits As-Samarqandi dalam Tanbihul Ghofilin (Beirut : DKI, h.92). menggunjing orang terbagi menjadi 4 keadaan, adakalanya membawa pada kekafiran, adakalanya membawa pada kemunafikan, adakalanya membawa pada kemaksiatan, dan adakalanya justru diperbolehkan.

Menggunjing dapat membawa kepada kekafiran ketika ada orang menggunjing sudaranya sesama muslim di belakangnya tanpa sepengetahuannya, kemudian dinasihati agar menjauhi perbuatan tersebut, namun dia justru menjawab bahwa apa yang dia sampaikan adalah hal yang benar. (tentulah yang dikatakan menggunjing adalah membicarakan sesuatu tentang orang lain di belakang, dan hal tersebut benar adanya sesuai fakta, karena kalau tidak sesuai fakta, hal tersebut dikatagorikan sebagai buhtan/berita bohong/hoax. Orang tersebut seolah meyakini bahwa menggunjing bukan perbuatan yang dilarang Allah dan Rasul-Nya, sikap seperti inilah yang seolah menghalalkan apa yang diharamkan, apabila tidak berhatai-hati dapat menyebabkan tergelincir dalam jurang kekafiran.

Menggunjing dapat membawa kepada kemunafikan, yakni ketika menggunjing seseorang tanpa menyebutkan nama yang dimaksud, namun khalayak yang diajak bicara dapat mengetahui siapa orang yang sedang digunjingkan tersebut. Tanpa disadari sikap seperti ini, menjadikan seseorang seolah merasa diri sebagai orang yang paling bersih dan baik di antara manusia.

Menggunjing dapat membawa kepada kemaksiatan, yakni ketika menggunjing seseorang dengan secara langsung menyebutkan nama personal orang yang digunjingkan kepada khalayak orang yang diajak bicara.

Adapun menggunjing yang diperbolehkan dan justru mendatangkan pahala, yakni ketika membicarakan perbuatan buruk dan tidak pantas oleh orang yang fasik, dan pelaku bid’ah, agar perbuatan buruk dari orang fasik tersebut dapat menjadi pelajaran dan dijauhi khalayak umum.

Senin, 07 November 2022

Coretan Kecil Penataran Metode An-Nahdliyah


Stick Sentuhan Jiwa, termasuk salah satu ciri khas dalam pengajaran al-Qur'an dengan Metode an-Nahdliyah.
Kurang lebih demikian sebagian pemaparan Bapak Khoirul Huda, dari Mabin Langitan tatkala mengisi materi penataran yang disampaikan kepada seluruh tim BTQ an-Nahdliyah dalam rangka penguatan dan penyamaan persepsi pengajaran al-Qur'an.

Acara ini digelar oleh Mabin Pusat Tulungagung dan berlokasi di Aula Pertemuan kantor PC LP Ma'arif Tulungagung. Pemateri yang asik ditopang dengan peserta yang antusias menjadi atmosfer yang melingkupi suasana penataran pada sore itu, Ahad, 06 Maret 2022. Kalau boleh mengumpamakan dengan makanan, peserta seolah disuguhi wagyu A5 oleh pak huda, melihat begitu berbobot dan lezatnya materi yang disampaikan.

Pernyataan yang disampaikan oleh pak huda pada awal tulisan ini, merupakan gambaran ciri khas yang hanya terdapat dalam metode pengajaran al-Qur'an An-Nahdliyah. Stick ketukan menjadi Instrumen pengajaran An-Nahdliyah ketika masih pada tahap jilid, sebagai media bantu guna menentukan panjang pendek bacaan.

Penamaan stick, dengan stick sentuhan jiwa, sejalan dengan keberadaan stick ini yang diharapkan mampu menyentuh jiwa para santri tatkala belajar membaca, kemudian mendengar suara ketukan, sehingga tersentuh dan tergerak untuk menirukan bacaan sebagaimana yang dicontohkan oleh pengajarnya.

Metode An-Nahdliyah merupakan metode pengajaran al-Qur'an yang lahir di Tulungagung yang diprakarsai para Kyai dan Tokoh Ahli dalam bidang al-Qur'an dengan peran sentral oleh K. Munawir Kholid. Keberadan metode ini turut mewarnai khazanah metode pengajaran al-Qur'an di Indonesia. Sehingga mampu menjadi perantara untuk santri agar dapat membaca al-Qur'an dengan baik dan benar.
Wallohu A'lam

Jumat, 22 Januari 2021

Eksploitasi Duka Oleh Media

Memasuki awal tahun 2021, platform media sosial maupun digital kebanjiran berita bencana dunia maupun bencana akhirat. Bencana dunia, meliputi fenomena banjir, hilangnya pesawat sriwijaya air, serta tak luput berita covid-19 yang seolah tidak ada hentinya meskipun sudah ada perkembangan lebih lanjut dengan ditemukannya vaksin. Sedangkan bencana akhirat tidak lain adalah wafatnya Ulama-ulama pewaris para Nabi. Seolah berita duka merupakan komoditas menarik untuk diberitakan terus menerus, tanpa menimbang aspek psikologis yang dihasilkan. Pemberitaan duka memang perlu untuk disampaikan, namun dalam kadar seperlunya dan secukupnya. Media bertanggungjawab dalam menyampaikan berita yang objektif dan berimbang.

Marilah tengok, pola pemberitaan pada beberapa negara maju, semisal Jepang. Andaikan tragedi Hiroshima dan Nagasaki diberitakan dengan terlalu dramatis, barangkali tidak mungkin dapat kita jumpai Jepang seperti sekarang. Biar bagaimanapun, informasi yang diterima oleh khalayak secara tidak langsung akan terekam dalam memori, lantas membentuk pola sikap melankolis dramatis, meratapi sebuah kesedihan berlarut-larut. Membuat orang kesulitan untuk bergerak, karena fikiran sudah terpenuhi dengan gambaran muram. Akibatnya, tercipta pola masyarakat yang kurang bersyukur, gemar melihat orang kesusahan, sulit melihat orang berbahagia.

Memupuk motivasi dan kebahagiaan seakan menjadi hal tabu, hal demikian dianggap sebagai sikap kesombongan, dan objek bullying serta perisakan. Sedangkan mengumbar kesedihan merupakan hiburan dan kelumrahan yang dapat diterima. Kondisi ini, berpotensi menjadikan masyarakat yang kurang kreatif, dan sulit berkembang.

Lantas bagaimana menyikapi pemberitaan yang begitu dieksploitasi secara berlebihan. Merefleksi kembali pesan Sohabat Umar Ibn Khattab "redamlah keburukan dengan tidak membicarakannya". Pesan ini, sepemahaman penulis mengandung maksud untuk mengabaikan atau menanggapi pemberitaan dengan secukupnya. Ditambah dengan meningkatkan rasa Syukur kepada Allah Ta'ala terhadap segala nikmat yang telah diberikan, mengoptimalkan potensi diri, serta menyibukkan dan berfokus terhadap hal yang lebih bermanfaat.

Sabtu, 09 Januari 2021

Mengambil I’tibar dari Nyamuk

Kehadiran nyamuk memang menjengkelkan bagi manusia, suara dengungan disertai gigitan yang tidak mengenakkan dapat  mengganggu tidur menjadi tidak nyenyak. Selain itu penyakit berbahaya (seperti demam berdarah, kaki gajah, dan malaria) yang dapat berujung pada kematian bisa diderita meskipun hanya dengan satu gigitan kecil. Tak pelak keadaan ini, menjadikan nyamuk menjadi semakin dibenci oleh manusia.

Nyamuk merupakan serangga dengan sepasang sayap bersisik. Sayap tersebut, mampu mengepak 1000 kali per menit, dengan postur tubuh langsing serta mempunyai enam kaki. Nyamuk memiliki ukuran yang berbeda-beda, namun jarang sekali ukurannya lebih dari 15 mm. Dalam bahasa Inggris, nyamuk dinamakan dengan “Mosquito”, yang berasal dari bahasa Spanyol atau Portugis yang berarti lalat kecil, nama tersebut digunakan sejak tahun 1583 hingga sekarang. Di negeri Inggris nyamuk dikenal sebagai gnats. Tercatat lebih dari tiga ribu spesies nyamuk yang beterbangan di muka bumi ini, baik di tempat yang beriklim panas maupun beriklim dingin. Meskipun mampu hidup di kutub, sebagian besar nyamuk lebih suka hidup di daerah yang beriklim tropis dengan kelembaban tinggi seperti di Indonesia.[1]

Nyamuk betina dapat hidup kurang dari 3 minggu. Sedangkan nyamuk jantan biasanya hanya dapat hidup sekitar satu minggu. Umumnya telur menetas di tempat yang berisi air. Telur-telur menetas menjadi larva. Larva bernapas dengan menggunakan tabung di ujung ekornya memakan organisme mikroskopis seperti bakteri. Dengan demikian sebagian besar larva nyamuk membutuhkan air yang mengandung bahan organik. Dalam waktu kurang dari satu minggu, larva dapat tumbuh dan berkembang menjadi pupa berbentuk koma. Biasanya dalam waktu tiga hari pupa akan berubah menjadi nyamuk dewasa. Hanya nyamuk betina yang menghisap darah karena darah tersebut, nantinya digunakan sebagi sumber makanan agar dapat bertelur. Ketika nyamuk menemukan mangsa, ia akan menyuntikkan air ludahnya ke dalam tubuh mangsa. Air ludahnya mengandung zat antikoagulan untuk mencegah terjadinya penggumpalan darah dan terkadang terkadang membawa beragam parasit berbahaya yang dapat menyebabkan penyakit.[2]

Meskipun cenderung tidak disukai, faktanya nyamuk memiliki kisah heroik dalam literatur agama Islam. Kisah tersebut, terjadi ketika nyamuk membantu Nabi Ibrahim, untuk menghukum kedzaliman raja Namrud, yaitu dengan memasuki kepala sang raja melalui lubang hidung, kemudian memakan daging dan darah dalam tubuhnya secara perlahan selama beberapa hari hingga membuatnya sangat menderita. kemudian di tengah keuputus asaan sang raja menhafdapi siksaan nyamuk dari dalam tubuhnya, ia menghantam kepalanya sendiri dengan sepotong besi sampai hancur dan meninggal dunia.[3]

Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila Allah Ta`ala pernah menyebut hewan ini, dalam suatu ayat :

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu... (al-Baqarah : 26)

Ayat di atas turun berkenaan dengan dengan ledekan kaum munafik yang menyatakan bahwa  Allah Ta`ala maha agung, sehingga hanya menjadikan api (2;17) dan hujan (2;19), suatu elemen yang dianggap besar sebagai permisalan. Oleh karena itu, melalui ayat ini Allah menjawab bahwa dalam penciptaan makhluk sekecil nyamuk Dia tidak segan menjadikannya permisalan agar diambil hikmah dan pelajaran.[4]

Melalui ayat ini, Allah hendak menguji manusia, apakah mampu mengambil pelajaran tentang keagungan Allah dalam menciptakan segala sesuatu dengan penuh hikmah walaupun dengan pada makhluk yang dianggap kecil dan remeh. Menanggapi hal ini, tentulah, orang beriman akan mengakuinya, sebari bertasbih  kepada-Nya, sedangkan orang kafir lebih memilih untuk mengingkarinya.

Pada masa sekarang, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia mengerti bahwa persoalan yang ditimbulkan oleh nyamuk bukanlah perkara kecil. Melalui penglihatan mikroskopis, dapat dilihat berbagai macam penyakit mematikan dibawa oleh nyamuk.[5] Untuk itu, penting menjaga lingkungan agar terhindar dari gangguan nyamuk. Terlebih di awal musim penghujan, dimana banyak nyamuk demam berdarah berkeliaran.

Allah Ta`ala tidaklah menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia, melainkan terdapat hikmah yang dapat dipetik. Berikut ada beberapa pelajaran dan kemanfaatan dari nyamuk :

1.      Suara dengungan nyamuk disertai gigitan kecil, dapat menjadi “alarm” alami untuk membangunkan manusia agar bangun sejenak menghidupkan malam dengan ibadah (Qiyamul Lail)

2.      Anatomi nyamuk yang kecil namun memiliki kompleksitas fungsi, dapat mengingatkan orang beriman pada kebesaran Allah Ta`ala dalam menciptaka segala sesuatu dengan begitu terperinci.

3.      Fase kehidupan nyamuk yang terbilang singkat, dapat menjadi pelajaran berharga bahwa kehidupan di dunia teramat singkat, sehingga merugilah orang yang tidak mampu mengisi kehidupan dengan memperbanyak amal kebajikan.

4.      Kepatuhan nyamuk dalam menjalankan tugas untuk menggigit tidak tebang pilih, baik itu kaya, miskin, orang elit, maupun orang elit, oleh karena itu sepatutnya manusia mengambil pelajaran kepatuhan tersebut dalam menjalankan tugas untuk taat dan beribadah kepada Allah Ta’ala



[1]http://id.m.wikipedia.org/wiki/Nyamuk diakses pada 1 Pebruari 2019, 21.00 WIB

[2]Ibid

[3]Abu al-Fida’ Isma`il ibn Katsir al-Dimasyqi, al-Bidayah wa al-Nihayah, (Kairo : Dar al-Hijr, 1997),  j.1 h.345

[4]Abu Ja’far Ibn Jarir al-Thabari, Tafsir al-Tahabri, (Kairo : Dar al-Hijr, 2001), j.1, h.423

[5]Fitri Nadhifa dkk, Identifikasi Larva Nyamuk Pada Tempat Penampungan Air di Padukuhan Dero Condong, Catur, Kabupaten Sleman dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas, (STIKES Guna Bangsa Yogyakarta : 2016)

MENGGUNJING (TIDAK SELAMANYA) DOSA

  Menggunjing orang itu sarang dosa Mengganggu orang itu sarang dosa Mencaci orang itu sarang dosa Memfitnah orang itu sarang dosa Dosa,...